Cara Budidaya Ikan Patin Pasupati ( Patin Super ) Desember 2017

Tuesday, November 28th, 2017 - Budidaya Ikan

Teknik Pembenihan Ikan Patin Pasupati ( Patin Super ) – Nama patin “pasupati” merupakan singkatan dari ” Patin Super Harapan Pertiwi ” ( Pangasius sp. ). Merupakan jenis ikan patin yang benar-benar baru dan asli dari Indonesia. Ikan ini disebut juga patin hibrida hasil perkawinan silang antara patin siam ( Pangasius hypothalmus ) betina dan patin jambal ( Pangasius djambal ) jantan. Dilepas secara resmi untuk dibudidayakan masyarakat oleh Menteri Kelautan dan Perikanan RI pada 7 agustus 2006. Bibit untuk indukan baru diproduksi secara terbatas di Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar ( LRPTBAT ) Sukamandi, Subang, Jawa Barat. Perkawinan silang yang dilakukan melalui program selective breeding ini menghasilkan sifat unggul patin pasupati sebagai perpaduan dari sifat-sifat unggul kedua induknya, yaitu :

  • Memiliki bobot badan besar
  • Laju pertumbuhan badan relatif cepat
  • Memiliki daging yang berwarna putih dan disukai pasar ekspor
  • Produksi telur ( fekunditas ) tinggi, yaitu 100.000 butir/kg berat induk betina.
  • Kadar lemak dagingnya relatif rendah

Teknologi Pembenihan.

Pembenihan patin pasupati sepenuhnya tergantung pada pemijahan buatan dengan hormon perangsang berupa hipofisis atau Ovaprim. Saat ini bibit untuk indukan masih diproduksi di Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar ( LRPTBAT ) Sukamandi, Subang, Jawa Barat.

  1. Menyiapkan Calon Induk

a. Sumber Induk

Calon induk yang akan dipijahkan harus memiliki kualitas genetis yang baik, yakni berasal dari induk terpilih. Induk patin pasupati belum tersedian di Unit Pembenihan Rakyat ( UPR ) sehingga perlu dipesan ke institusi penelitian milik Pemerintah, seperti Balai Benih Ikan ( BBI ) tertentu atau Balai Budidaya Air Tawar ( BBAT ) tertentu atau langsung ke Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar ( LRPTBAT ) Sukamandi, Subang, Jawa Barat.

b. Pemeliharaan Induk

Pemeliharaan induk dapat dilakukan di kolam atau keramba. Jika menggunakan kolam, dapat memakai kolam tanah, kolam tembok, atau kolam beton yang memiliki dasar tanah. Jika menggunakan keramba, dapat memakai keramba yang berukuran 2 x 3,5 x 2 m3. Keramba bisa diletakkan di sungai, danau, atau waduk. Idealnya, kedalaman keramba minimum 1,5 m dan maksimum 2 m. Sementara itu, jika menggunakan kolam harus memiliki saluran pemasukan, saluran pengeluaran, dan saluran pengurasan air. Dengan demikian, kolam gampang diisi air dan bisa dikeringkan sewaktu-waktu. Selain itu, disarankan kolam memiliki ketinggian air minimum 1 m. Selama pemeliharaan, induk diberi pakan berupa pelet komersial yang memiliki kadar protein minimum 28% dengan dosis 2 kali sehari, yakni pagi dan sore.

2. Teknik Pemijahan

a. Pemilihan Jenis Kelamin.

Secara fisik, ikan patin pasupati tidak memperlihatkan karakteristik eksternal yang jelas sihingga tidak mudah membedakan induk patin jantan dan betina, apalagi menetukan tingkat kematangan gonadnya. Namun, ada ciri – ciri khusus yang bisa digunakan untuk membedakan induk jantan dan betina.

Induk betina:

  • Perut membesar ke arah anus.
  • Jika diraba perut terasa empuk dan halus.
  • Kloaka membengkak dan berwarna merah tua.
  • Kulit pada bagian perutlembek dan tipis.
  • Jika bagian di sekitar kloaka ditekan, akan keluar beberapa butir telur berbentuk bundar yang besarnya seragam.

Induk jantan:

  • Kulit perut lembek dan tipis.
  • Jika bagian perut diurut ke arah anus, akan keluar cairan sperma berwarna putih.
  • Alat kelamin membengkak dan berwarna merah tua.

b. Pemilihan Induk Matang Gonad

Untuk mengetahui tingkat kematangan gonad, dapat dilakukan cara – cara berikut:

  • Ambil satu ekor induk patin betina, kemudian sedot telurnya menggunakan slang. Caranya, masukkan slang ke dalam kloaka hingga sedalam 3 cm. Setelah itu, ujung selang lainnya disedot menggunakan mulut hingga tampak beberapa butir telur di dalam selang.
  • Taruh telur di dalam cawan, kemudian tetesi dengan larutan sera. Larutan sera merupakan campuran formalin, alkohol, dan larutan asetid dengan perbandingan 6 : 3 : 1. Larutan tersebut berfungsi mengetahui telur yang telah matang. Ciri -ciri telur yang sudah matang berbentuk bulat, berwarna putih kekuningan, dan inti telur jelas terpisah dari cangkangnya.
  • Gunakan mikroskop atau jika mampu cukup dengan mata telanjang untuk mengamati dan mengukur diameter telur sebagai parameter kematangan gonad.
  • Jika inti telur sudah menepi, berarti induk sudah siap dipijahkan. Atau, jika diameter telur sudah mencapai 1,72 mm, berarti induk betina siap dipijahkan. Namun, jika diameter telur kurang 1,72 mm, dibutuhkan rangsangan untuk membuat telur berkembang. Caranya dengan menyuntikkan hormon HCG dengan dosis 500 IU/kg, dan diamati perkembangannya selama 1 x 48 jam.
  • Untuk induk jantan, penentuan kematangan gonad bisa dilakukan dengan melihat alat kelamin yang agak menonjol. Jika diurut ke arah genital, akan mengeluarkan cairan berwarna putih susu.

c. Induce Breeding

Pemijahan buatan pada patin pasupati dapat dilakukan dengan pemberian rangsangan menggunakan hormon HCG ( Human Chorionic Gonadotropin ) dan hormon Ovaprim ( campuran GnRh dan Domperidone ). Penyuntikan untuk induk betina dilakukan dua kali dengan hormon yang berbeda. Penyuntikan pertama menggunakan hormon HCG dengan dosis 500 IU/kg induk betina. Sementara itu, penyuntikan kedua menggunakan hormon Ovaprim dengan dosis 0,6 ml/kg induk betina. Selang waktu antara penyuntikan pertama dengan kedua sekitar 6 jam. Sedangkan untuk induk jantan, penyuntikan hormon cukup dilakukan sekali bersamaan dengan penyuntikan kedua induk betina. Pada induk jantan hanya disuntikan hormon Ovaprim dengan dosis 0,2 ml/kg induk jantan.

Penyuntikan harus dilakukan secara intramuskuler, yakni di dalam daging atau otot, tepatnya dibagian kiri atau kanan belakang sirip punggung. Alasannya, bagian belakang sirip punggung memiliki otot yang cukup tebal sehingga injeksi bisa dilakukan cukup dalam. Dengan demikian, risiko keluarnya cairan hormon malalui lubang injeksi bisa dihindari. Posisi jarum suntik harus membentuk sudut 30 samapai 40. Agar cairan hormon bisa masuk sempurna ke dalam otot, disarankan untuk menunggu beberapa saat ( kira – kira 15-20 detik ), baru setelah itu jarum injeksi ditarik secara perlahan. Selain itu, saat penyuntikan hormon pastikan di dalam spuit tidak terdapat gelembung udara.

Setelah penyuntikan, ikan bisa dilepas kembali ke dalam hapa, kolam, atau bak pemijahan. Sementara itu, sisa hormon yang tidak terpakai masih bisa disimpan di lemari pendingin ( refrigerator atau kulkas ) selama beberapa minggu. Sisa hormon tersebut bisa digunakan pada pemijahan berikutnya. Sercara umum, ovulasi terjadi sekitar 6-12 jam setelah penyuntikan kedua. Namun demikian, waktu ovulasi lebih dipengaruhi diameter telur atau tingkat kematangan gonad yang ditandai dengan perkembangan organ genital, seperti mulai memerah atau menonjol.

d. Stripping

Pembuahan dilakukan secara manual, yakni mencampur sendiri telur-telur induk betina hasil pemijahan buatan dengan sejumlah sperma induk jantan dalam sebuah wadah. Pengambilan sperma induk jantan dilakukan dengan stripping ( pengurutan ) ke arah lubang genital. Caranya, induk jantan diambil dari bak pemeliharaan. Setelah itu, sebagian besar urine dikeluarkan dari kandung kemih dengan menekannya secara lembut dan perlahan ke arah perut persis di depan papila alat kelamin. Lalu, daerah papila dikeringkan dengan tisu untuk mencegah tercampurnya sperma dengan urine ataupun air. Seletah itu, sperma siap disedot dengan spuit 25 cc yang telah diisi larutan NaCI 0,9% dengan perbandingan 4 cc NaCl dan 1 cc sperma. Setelah sperma berhasil disedot, induk jantan bisa dilepaskan kembali ke wadah pemeliharaan.

Pengeluaran telur induk betina juga dilakukan dengan pengurutan yang disebut stripping. Caranya, induk betina diambil dan dalam wadah pemeliharaan secara hati-hati. Lalu perutnya dikeringkan dengan tisu atau kain yang lembut. Stripping dilakukan dengan mengurut bagian perut ikan dengan tekanan yang lembut ke arah papila atau alat kelamin. Jika perut ikan terasa lunak dan terjadi pancaran sel telur setiap kali perut ditekan, berarti itu saat yang tepat untuk melakukan stripping. Umumnya, jika proses stripping bisa dilakukan dengan mudah dan lancar, mutu sel telur yang dihasilkan cukup bagus. Sebaiknya, jika stripping sulit dilakukan, mutu sel telur yang dihasilkan tidak bagus, yakni kering dan bercampur darah. Munculnya darah menandakan bahwa telah terjadi luka dalam pada perut ikan saat penekanan. Gejala tersebut bisa memicu kematian.

Telur yang keluar dari induk betina ditampung dalam baskom kecil. Kemudian, letakkan baskom tersebut di tempat yang terlindungi dan jauh dari sumber air. Hindari perendaman sel telur dalam air tawar, apalagi perendaman dalam larutan fisiologis, seperti NaCl 0,9%, dengan tujuan pengawetan. Pasalnya, sel telur patin super yang disimpan dalam air tawar maupun yang diawetkan dengan larutan fisiologis tidak bisa lagi dibuahi alias telah mati. Berbeda dengan telur patin siam yang tetap bisa dibuahi, meski diawetkan dengan larutan fisiologis.

Setelah ditampung dalam baskom kecil, telur siap dibuahi. Caranya, sperma dimasukkan ke baskom berisi telur, campuran sperma dan telur tersebut diaduk menggunakan bulu ayam secara perlahan selama 3 menit. Untuk meningkatkan derajat pembuahan, sebaiknya sel telur dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil, misalnya dalam wadah plastik ukuran 100-200 ml. Setiap 100 ml kelompok sel telur bisa dicampur dengan 5 ml sperma. Setelah sperma dan telur bercampur, air tawar ditambahkan secukupnya, lalu diaduk menggunakan bulu ayam secara perlahan selama 3 menit. Penambahan air tawar berfungsi mengaktifkan semua spermatozoa. Penambahan secara tepat akan mengaktifkan semua spermatozoa secara bersamaan. Setelah itu, telur-telur dicuci dengan air bersih untuk membuang kelebihan spermatozoa, dan selanjutnya siap dipindahkan ke tempat penetasan.

Hindari munculnya getaran mekanis yang berlebihan karena telur-telur sangat peka terhadap getaran mekanis. Getaran mekanis yang berlebihan bisa menyebabkan tingkat penetasan telur yang rendah dan meningkatnya proporsi larva hasil penetasan yang abnormal.

e. Penetasan Telur

Telur patin pasupati gampang tenggelam dan lengket setelah terkena air sehingga telur-telur tersebut saling menempel satu dengan lainnya. Karena itu, penetasan sebaiknya dilakukan secara intensif di dalam corong penetasan dengan menggunakan sistem resirkulasi air ( air mengalir terus-menerus ). Prinsip kerjanya, telur diupayakan tetap bergerak dengan memanfaatkan dorongan sirkulasi air yang dimasukkan melalui pipa PVC pada bagian bawah corong. Keuntungannya, sifat lengket pada telur bisa dihilangkan dengan air yang mengalir terus-menerus. Selain itu, kandungan oksigen juga meningkat sehingga mampu mencegah perkembangan jamur atau cendawan yang bisa merusak telur.

Agar daya rekat telur hilang, sebelum dimasukkan ke dalam corong, telur dicuci dengan larutan tanah merah terlebih dahulu. Caranya, larutan tanah merah dicampurkan ke dalam wadah berisi telur yang telah dibuahi, lalu diaduk perlahan-lahan hingga daya rekat telur hilang. Setelah itu, telur dicuci dengan air bersih, baru kemudian dimasukkan ke dalam corong penetasan. Corong penetasan disiapkan satu hari sebelum digunakan sehingga keberhasilan penetasan lebih terjamin. Langkah-langkah persiapan corong penetasan:

  • Semua wadah pada unit pembenihan patin super, seperti corong penetasan telur, tempat perawatan larva, bak filter air, bak penampung air bersih, water turn, dicuci bersih dan dikeringkan.
  • Agar terhindar dari kontaminasi jamur atau bakteri, corong-corong penetasan telur bisa direndam dalam larutan Kalium Permanganat ( PK ) sebanyak 20 ppm atau dengan malachite green sebanyak 5 ppm sebanyak 30 menit.
  • Setelah semua wadah selesai disiapkan, langkah selanjutnya adalah pengisian air bersih ke semua wadah. Kemudian pompa isap yang berfungsi mengalirkan air dari wadah penampungan air bersih ke water turn dijalankan. Dengan demikian, sirkulasi air akan terjadi di seluruh wadah unit pembenihan.

Setelah itu, telur-telur yang akan ditetaskan disebarkan ke dalam corong menggunakan bulu ayam, sambil air terus dialirkan dengan mengatur debit air menggunakan keran. Dengan demikian, telur tidak akan menumpuk di dasar corong, melainkan akan selalu terangkat di dalam corong tersebut. Kepadatan telur sebanyak 500 cc/corong.

Lamanya penetasan telur tergantung pada suhu air. Artinya, telur akan lebih cepat menetas di dalam air yang hangat dibandingkan dalam air yang suhunya lebih dingin. Di perairan dengan suhu 29 C-30 C, telur mulai menetas sekitar 33-35 jam setelah pembuahan. Namun secara umum, di seluruh perairan Indonesia lama penetasan berkisar antara 29-36 jam setelah pembuahan ( tergantung suhu ). Telur tidak menetas secara serempak, dibutuhkan waktu hingga 40 jam samapi semua telur menetas.

Setelah semua telur menetas, di dalam wadah penetasan akan tampak campuran antara benih ikan ( larva ), sisa-sisa buangan dari penetasan, dan telur-telur busuk yang gagal menetas. Campuran tersebut bisa menyebabkan air di dalam wadah menjadi keruh dan menurun kualitasnya sehingga bisa menjadi racun bagi larva. Agar hal tersebut tidak terjadi, sisa-sisa telur yang membusuk sebaiknya dibuang. Cara lainnya, larva dipindahkan ke tempat lain untuk sementara waktu, seperti ke dalam akuarium dengan sistem air yang mengalir. Atau, larva dipindahkan ke tempat perawatan atau pemeliharaan larva untuk seterusnya.

C. Perawatan Larva

Larva hasil penetasan bisa dipindahkan ke wadah pemeliharaan dengan menyeroknya menggunakan scoop net halus. Umumnya wadah pemeliharaan yang digunakan berupa aquarium, bak fiberglass, atau bak plastik. Wadah tersebut harus memiliki aerasi menggunakan aerator untuk meningkatkan kandungan oksigen terlarut.

Perawatan larva patin super dibagi menjadi dua masa pemeliharaan, yakni masa pemeliharaan dengan padat tebar 15 ekor/ liter air selama 8 hari, dan masa pemeliharaan selanjutnya dengan padat tebar 5 ekor/liter air. Pada masa yang pertama, pakan yang diberikan berupa artemia dengan frekuansi pemberian 5 kali/hari, yakni pukul 07.00, 11.00, 15.00, 19.00, dan 23.00. Setelah 8 hari, pakan yang diberikan berupa cacing sutra hidup atau kutu air.

Demikian untuk informasi Cara dan Teknik Budidaya Ikan Patin Pasupati ( Patin Super ) dari saya dan simak juga cara budidaya ikan yang lainnya untuk anda ketahui. Saya ucapkan banyak terima kasih kepada anda yang sudah berkunjung ke blog saya ini untuk mengetahui Cara dan Teknik Budidaya Ikan ini. Semoga dari artikel yang sudah saya buat ini dapat bermanfaat untuk anda semua.

Lihat Juga: